Nama Lengkap : Amir
Gelar : Depati
Panggilan : Depati Amir
Profesi : Pemimpin Perjuangan Rakyat Bangka, Calon Pahlawan Nasional
Tempat Lahir : Mendara, Pulau Bangka
Tahun Lahir : Tahun 1805 Masehi
Tempat Meninggal : Kupang, Nusa Tenggara Timur
Tahun Meninggal : 28 September 1869 Masehi
Nama Ayah : Depati Bahrin bin Depati Karim atau dipanggil Bahren
Nama Ibu : Dakim
Nama Istri : Janur
Mei 1812
Perlawanan awal rakyat Bangka di Distrik Toboali termasuk Kepoh, dipimpin oleh Raden Kling. Inspektur tambang Timah Inggris di Distrik Toboali bernama Brown mati dibunuh dalam peperangan. Pemerintah Inggris mengerahkan tentaranya dari Kota Muntok ke Distrik Toboali dan karena terdesak Raden Kling beserta pasukannya menyingkir dari Distrik Toboali ke pulau Belitung serta terus melanjutkan perjuangan di pulau Belitung dibantu oleh Depati Belitung K.A. Mohammad Hatam (Depati Tjakraningrat VII, masa pemerintahan 1785-1813 Masehi).
Perlawanan awal rakyat Bangka di Distrik Toboali termasuk Kepoh, dipimpin oleh Raden Kling. Inspektur tambang Timah Inggris di Distrik Toboali bernama Brown mati dibunuh dalam peperangan. Pemerintah Inggris mengerahkan tentaranya dari Kota Muntok ke Distrik Toboali dan karena terdesak Raden Kling beserta pasukannya menyingkir dari Distrik Toboali ke pulau Belitung serta terus melanjutkan perjuangan di pulau Belitung dibantu oleh Depati Belitung K.A. Mohammad Hatam (Depati Tjakraningrat VII, masa pemerintahan 1785-1813 Masehi).
10 Desember 1816
Berkuasanya kembali Belanda di pulau Bangka setelah Traktat London 1816 dan dikeluarkan Tin Reglement pada Tahun 1819 Masehi yang berisi: Penambangan Timah di Bangka langsung berada di bawah wewenang dan kekuasaan residen; Timah adalah monopoli penuh Belanda dan tambang Timah partikelir dilarang sama sekali beroperasi. Tin Reglement, kemudian memicu berbagai perlawanan rakyat Bangka.
Berkuasanya kembali Belanda di pulau Bangka setelah Traktat London 1816 dan dikeluarkan Tin Reglement pada Tahun 1819 Masehi yang berisi: Penambangan Timah di Bangka langsung berada di bawah wewenang dan kekuasaan residen; Timah adalah monopoli penuh Belanda dan tambang Timah partikelir dilarang sama sekali beroperasi. Tin Reglement, kemudian memicu berbagai perlawanan rakyat Bangka.
Mei 1819
Kepala-kepala rakyat di Toboali beserta dengan “Lanun” menyerbu parit-parit Timah di sekitar daerah sungai Kepoh dan kemudian merebut kembali Toboali dari tangan Belanda. Letnan Biery dengan 40 prajurit lari tunggang langgang ke Pangkalpinang. Demikian pula kedudukan tentara Belanda di Jebus diserbu oleh kepala-kepala rakyat dan Lanun berkali-kali dan sebuah kapal perang Belanda dapat dirampas.
Kepala-kepala rakyat di Toboali beserta dengan “Lanun” menyerbu parit-parit Timah di sekitar daerah sungai Kepoh dan kemudian merebut kembali Toboali dari tangan Belanda. Letnan Biery dengan 40 prajurit lari tunggang langgang ke Pangkalpinang. Demikian pula kedudukan tentara Belanda di Jebus diserbu oleh kepala-kepala rakyat dan Lanun berkali-kali dan sebuah kapal perang Belanda dapat dirampas.
14 November 1819
Perlawanan besar rakyat dipimpin oleh Depati Bahrin seorang depati di wilayah Distrik Jeruk Dengan heroisme perlawanannya, di bawah komando Depati Bahrin, rakyat Bangka berhasil membunuh dan memenggal serta mengeringkan kepala Residen Belanda M.A.P Smissaert.
Perlawanan besar rakyat dipimpin oleh Depati Bahrin seorang depati di wilayah Distrik Jeruk Dengan heroisme perlawanannya, di bawah komando Depati Bahrin, rakyat Bangka berhasil membunuh dan memenggal serta mengeringkan kepala Residen Belanda M.A.P Smissaert.
17 Agustus 1819
Untuk menumpas perlawanan rakyat Bangka yang bermarkas di Bangkakota, tentara Belanda melakukan serangan pertama melalui darat dan melalui laut dipimpin oleh Kapten Ege.
Untuk menumpas perlawanan rakyat Bangka yang bermarkas di Bangkakota, tentara Belanda melakukan serangan pertama melalui darat dan melalui laut dipimpin oleh Kapten Ege.
September 1819
Pada serangan kedua terjadi pertempuran besar-besaran di Bangkakota. Pada waktu itu Bangkakota diserang oleh pasukan Belanda dari darat dipimpin oleh Kapten Laemlin yang membawa pasukannya sekitar 230 prajurit dari Pangkalpinang.
Pada serangan kedua terjadi pertempuran besar-besaran di Bangkakota. Pada waktu itu Bangkakota diserang oleh pasukan Belanda dari darat dipimpin oleh Kapten Laemlin yang membawa pasukannya sekitar 230 prajurit dari Pangkalpinang.
14 September 1819
Serangan dari laut dilakukan oleh pasukan Belanda dengan empat buah kapal perang di bawah pimpinan Kapten Baker. Karena minimnya persenjataan, Bangkakota kemudian dibumihanguskan oleh rakyat yang kemudian menyingkir ke Kotaberingin dan Nyireh. Dari pihak Belanda tewas sebanyak 4 orang, 19 terluka, seorang perwira dan 45 prajurit mengalami kelaparan, 2 perwira dan 63 prajurit mengalami sakit, total
50 persen pasukan tidak mampu bertempur.
Serangan dari laut dilakukan oleh pasukan Belanda dengan empat buah kapal perang di bawah pimpinan Kapten Baker. Karena minimnya persenjataan, Bangkakota kemudian dibumihanguskan oleh rakyat yang kemudian menyingkir ke Kotaberingin dan Nyireh. Dari pihak Belanda tewas sebanyak 4 orang, 19 terluka, seorang perwira dan 45 prajurit mengalami kelaparan, 2 perwira dan 63 prajurit mengalami sakit, total
50 persen pasukan tidak mampu bertempur.